Merawat Harmoni dalam Keberagaman: Kunjungan Kerja FKUB Ogan Ilir Disambut Hangat di Banyuasin

Read Time:4 Minute, 35 Second

Pangkalan Balai,Sumselku.com — Dalam suasana penuh keakraban dan dialog konstruktif, Pemerintah Kabupaten Banyuasin menerima kunjungan kerja Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ogan Ilir. Pertemuan yang berlangsung di Rumah Dinas Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuasin ini bukan sekadar ajang silaturahmi antar daerah, tetapi juga menjadi momentum penting dalam memperkuat komitmen menjaga kerukunan umat beragama di tengah keragaman bangsa.

Pagi itu, langit Pangkalan Balai tampak cerah. Angin semilir membawa semangat yang berbeda di kompleks rumah dinas Sekda Banyuasin. Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuasin, Ir. Erwin Ibrahim, ST, MM, MBA, IPU, ASEAN Eng., berdiri menyambut rombongan dari Kabupaten Ogan Ilir dengan senyum hangat. Dipimpin langsung oleh Ketua FKUB Ogan Ilir, H.M. Rido, S.Ag, dan didampingi Plt. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Ogan Ilir, H. Jhon Hery, M.Ag, rombongan itu tampak antusias untuk berdialog, berbagi pengalaman, dan menjajaki kerja sama lintas wilayah.

Turut hadir dalam pertemuan itu, Kepala Kesbangpol Banyuasin Adam Ibrahim, SE., M.Si, serta Ketua FKUB Banyuasin, Ir. H. Supartidjo. Di ruangan yang ditata sederhana namun penuh dengan nuansa kearifan lokal, suasana keakraban langsung terasa. Tidak ada sekat antardaerah, tidak ada jarak birokrasi. Semua pihak duduk dalam satu lingkaran semangat: memperkuat toleransi, merawat harmoni.

Banyuasin dalam Keberagaman

Dalam sambutan pembukaannya, Ketua FKUB Ogan Ilir, H.M. Rido, mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Banyuasin atas sambutan yang hangat dan penuh kekeluargaan. Ia menyebut kunjungan kerja ini bukan hanya formalitas program kerja tahunan, tapi lebih dari itu — sebuah ikhtiar bersama membangun pemahaman lintas wilayah tentang pentingnya menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

“Banyuasin adalah miniatur Indonesia,” ujar Rido dengan nada kagum. “Di sini kita bisa melihat bagaimana masyarakat dari beragam suku, agama, dan budaya hidup berdampingan dalam damai. Ini menjadi inspirasi bagi kami di Ogan Ilir.”

Sekda Erwin Ibrahim lalu membalas sambutan itu dengan pemaparan yang komprehensif mengenai profil Kabupaten Banyuasin. Dengan luas wilayah mencapai 12.262,75 km² dan populasi sekitar 850.022 jiwa, Banyuasin menjadi salah satu kabupaten dengan tantangan demografi yang cukup kompleks. Wilayahnya terdiri atas daratan, perairan, kawasan pesisir, dan perkampungan masyarakat adat, semuanya menyatu dalam dinamika sosial yang kaya akan warna.

“Keberagaman ini adalah kekuatan sekaligus tantangan,” kata Erwin. “Di satu sisi, kita harus mampu menjadikan keberagaman sebagai modal sosial. Namun di sisi lain, kita juga wajib memastikan bahwa perbedaan tidak menjadi sumber konflik.”

Ia menjelaskan, masyarakat Banyuasin terdiri dari berbagai latar belakang etnis seperti Jawa, Palembang, Komering, Bugis, dan lainnya. Begitu pula dengan agama: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu hidup berdampingan dengan damai. Kerukunan ini, menurut Sekda, bukan hadir dengan sendirinya, tetapi buah dari kerja keras berbagai elemen, termasuk FKUB.

Tidak Ada Tempat bagi Konflik SARA

Lebih jauh, Erwin Ibrahim menegaskan bahwa hingga saat ini, Banyuasin tidak pernah mengalami konflik berlatar belakang suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). “Ini bukan karena kita kebal konflik,” ujarnya lugas. “Tapi karena kita terus-menerus merawat harmoni.”

Ia menyebut peran strategis FKUB dalam membangun komunikasi lintas agama sangat vital. FKUB tidak hanya berfungsi sebagai mediator ketika terjadi potensi konflik, tetapi juga sebagai fasilitator dalam membangun pemahaman bersama dan mendorong dialog antarumat.

“FKUB harus adaptif terhadap zaman,” lanjutnya. “Bukan hanya berkutat pada penyelesaian masalah, tetapi juga proaktif dalam edukasi, literasi toleransi, hingga menguatkan nilai-nilai kearifan lokal.”

Dalam pertemuan tersebut, Erwin pun mempersilakan para peserta untuk melakukan sesi tukar pikiran, diskusi dan sharing program antara FKUB Banyuasin dan FKUB Ogan Ilir. Ia berharap kolaborasi semacam ini tidak berhenti di meja pertemuan, melainkan dilanjutkan dalam bentuk kegiatan bersama seperti dialog lintas iman, pelatihan kader kerukunan, hingga program penguatan kapasitas pengurus FKUB di tingkat kecamatan dan desa.

Dialog dan Sinergi Dua Kabupaten

Sesi diskusi berlangsung santai namun berbobot. Ketua FKUB Banyuasin, Ir. H. Supartidjo, membagikan sejumlah program inovatif yang telah dijalankan di daerahnya. Salah satunya adalah kegiatan rutin “Ngopi Toleransi” yang melibatkan tokoh lintas agama dan pemuda lintas suku dalam suasana informal.

“Kita ingin membangun ruang-ruang dialog yang tidak kaku,” kata Supartidjo. “Karena toleransi tidak lahir dari seminar, tetapi dari kebiasaan saling mengenal dan memahami.”

Sementara itu, perwakilan dari FKUB Ogan Ilir tertarik pada model kolaborasi FKUB dengan sekolah-sekolah dan pesantren di Banyuasin. Mereka melihat potensi penguatan toleransi bisa dimulai sejak dini, dari ruang kelas dan lingkungan pendidikan.

Plt. Kepala Kesbangpol Ogan Ilir, H. Jhon Hery, menyampaikan bahwa pihaknya akan mencoba mengadaptasi beberapa pendekatan yang telah dilakukan di Banyuasin untuk memperkuat program FKUB di Ogan Ilir. Ia menilai, semangat dan konsistensi pemerintah daerah dalam mendukung FKUB menjadi kunci sukses dalam menjaga stabilitas sosial.

Menanam Benih, Menuai Kerukunan

Pertemuan yang berlangsung selama lebih dari dua jam itu ditutup dengan suasana haru dan optimisme. Kedua belah pihak sepakat untuk mempererat komunikasi lintas kabupaten dan menjadikan kunjungan ini sebagai awal dari sinergi yang lebih erat.

Sekda Banyuasin menegaskan kembali bahwa membangun kerukunan bukan pekerjaan instan. Ia ibaratkan seperti menanam benih di tanah yang luas: butuh kesabaran, ketelatenan, dan kerja kolektif. Tetapi ketika benih itu tumbuh dan berbunga, maka semua pihak akan menuai hasilnya dalam bentuk kehidupan yang damai dan harmonis.

“Di tengah situasi dunia yang semakin rentan terhadap polarisasi dan perpecahan, apa yang kita lakukan hari ini adalah bentuk investasi sosial jangka panjang,” pungkas Erwin.

Sebagai penutup, FKUB Ogan Ilir memberikan cenderamata kepada Pemkab Banyuasin sebagai simbol persahabatan dan kerjasama lintas daerah. Balasan dari Banyuasin pun serupa: sebentuk kenang-kenangan yang merepresentasikan nilai-nilai kearifan lokal dan semangat gotong royong.

Ketika rombongan FKUB Ogan Ilir meninggalkan lokasi pertemuan, semangat yang mereka bawa bukan lagi sekadar hasil kunjungan kerja. Tapi juga energi baru untuk terus memperkuat fondasi kebangsaan: hidup rukun dalam keberagaman yang hakiki. (*)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *