Aksi Ninja Sawit Sangat Meresahkan, Petani Berteriak: Kami Butuh Rasa Aman dan Perlindungan Hukum Tanpa Harus Melanggar Hukum

Read Time:2 Minute, 34 Second

MUSI BANYUASIN, Sumselku.com – Sunyi malam di kebun sawit Desa Ngulak III, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, mendadak berubah mencekam.

Di antara deretan pohon sawit, suara letusan senapan angin memecah keheningan. Seorang ninja sawit – sebutan bagi pencuri buah sawit – tumbang bersimbah darah.

Pelakunya, Muhammad Pajri (45), seorang ASN sekaligus petani sawit, kini harus berhadapan dengan hukum. Ia mengaku menembak mati Rocki Marciana (37), pencuri sawit yang selama ini meresahkan warga.

Jasad Rocki ditemukan di area persawahan tak jauh dari lokasi kejadian pada Rabu (22/10/2025). Namun di balik peristiwa itu, tersimpan kisah getir tentang keresahan petani, maraknya pencurian, dan ketidakpastian hukum yang membuat warga kecil merasa tak terlindungi.

Kepada aparat, Pajri mengaku menyesal atas tindakannya. Ia mengaku tak bermaksud menghilangkan nyawa, hanya ingin menakuti pelaku yang sudah terlalu sering mencuri di kebunnya.

“Sudah lebih dari beberapa kali saya memergoki dia (Rocki) mencuri, tapi selalu saya maafkan,” ujar Pajri lirih, Rabu (29/10/2025).

Namun malam itu menjadi puncak kesabarannya. Saat sedang berjaga, Pajri kembali memergoki Rocki hendak mencuri sawit.

Ia sudah memperingatkan agar korban tidak mengulangi perbuatannya, tapi peringatan itu dibalas dengan sinar senter ke wajah dan kata-kata makian.

Tak kuasa menahan emosi, Pajri melepaskan tembakan dari senapan angin yang dibawanya. Tembakan pertama mengenai paha korban, namun setelah pelaku terus memaki, Pajri kembali menembak hingga pelaku roboh tak bernyawa.

Dalam kondisi panik dan takut, Pajri kemudian mengajak anaknya TH (16) — yang masih berstatus pelajar — untuk membantu memindahkan jasad korban ke area persawahan.

“Saya stres, bingung mau diapakan,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kini, baik Pajri maupun anaknya harus menghadapi proses hukum yang panjang akibat peristiwa tragis tersebut.

Kasus ini membuka kembali luka lama bagi para petani sawit di Sanga Desa. Aksi pencurian buah sawit yang dilakukan ninja sawit disebut sudah berlangsung lama dan sangat meresahkan.

SY, salah satu tokoh masyarakat Desa Ngulak III, menyebut para petani kini hidup dalam ketakutan.

“Kami tidak tahu harus bagaimana lagi. Sawit kami dicuri terus, tapi saat kami berusaha menjaga, malah bisa berakhir di penjara,” keluhnya.

Ia berharap aparat penegak hukum dan pemerintah segera turun tangan memberikan jaminan keamanan di wilayah perkebunan rakyat.

“Kami cuma ingin rasa aman dan perlindungan hukum tanpa harus melanggar hukum. Kami kerja keras buka kebun, bukan hanya keluar tenaga dan biaya, tapi juga nyawa. Jangan sampai kami yang mempertahankan hak justru dijadikan tersangka,” tegas SY.

Warga menilai, jika tidak ada tindakan tegas terhadap para pelaku pencurian sawit, maka kejadian seperti ini bisa terus terulang – bahkan memicu tindakan main hakim sendiri di kalangan masyarakat.

Kasus Muhammad Pajri menjadi cermin dilema hukum yang dihadapi banyak petani di daerah. Di satu sisi mereka ingin mempertahankan hasil kerja kerasnya, di sisi lain mereka terancam hukum jika bertindak di luar batas.

“Negara harus hadir memberi perlindungan. Kami bukan ingin melanggar hukum, kami hanya ingin hidup tenang,” tutur salah satu warga yang enggan disebut namanya.

Kini, masyarakat Sanga Desa hanya bisa berharap keadilan ditegakkan secara bijak. Mereka meminta agar pemerintah dan aparat memberikan solusi yang adil — agar petani sawit bisa bekerja tanpa rasa takut, dan tak lagi kehilangan hasil jerih payahnya di tangan para ninja sawit.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
100 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *