
Bupati Askolani Sedih Banyuasin Dilanda Kekeringan, Ajak Warga Bersama-sama Berdoa

PANGKALAN BALAI, Sumselku.com – Musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Banyuasin membuat Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani, S.H., M.H., prihatin. Di tengah kondisi air yang mulai sulit diperoleh masyarakat, Askolani mengajak seluruh warga memperkuat ikhtiar dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT agar hujan segera turun.
Rasa prihatin tersebut tergambar saat Askolani mengikuti Salat Istisqa atau salat meminta hujan yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuasin di Lapangan Upacara Pemerintah Kabupaten Banyuasin, Senin (31/8/2026).
Salat Istisqa dilaksanakan serentak di 21 kecamatan se-Kabupaten Banyuasin dan dipusatkan di Pangkalan Balai. Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bupati Askolani didampingi Sekretaris Daerah Banyuasin Ir. Erwin Ibrahim, S.T., M.M., M.B.A., IPU., ASEAN Eng., serta diikuti jajaran Pemkab Banyuasin, Forkopimda dan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Askolani mengajak masyarakat tidak hanya berikhtiar secara teknis menghadapi dampak kemarau, tetapi juga memohon pertolongan dan ampunan kepada Allah SWT.
“Ini merupakan ikhtiar kita bersama. Selain terus melakukan langkah-langkah penanganan di lapangan, kita juga memohon pertolongan kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan,” ujar Askolani.
Menurutnya, kekeringan yang berlangsung cukup panjang mulai memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat. Tidak hanya menyangkut kebutuhan air sehari-hari, kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap tanaman, hewan dan lingkungan.
Askolani mengingatkan, jika kemarau terus berlanjut, dampaknya bisa semakin luas, terutama terhadap sektor pertanian. Lahan yang semakin kering juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dapat menyebabkan kualitas udara menurun dan mengganggu kesehatan masyarakat.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Banyuasin untuk menjaga kebersamaan dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan selama musim kemarau.
“Kalau kekeringan terus berlangsung, tentu dampaknya akan semakin luas. Pertanian bisa terganggu, risiko kebakaran lahan meningkat, kualitas udara dapat menurun dan pada akhirnya bisa berdampak terhadap kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Salat Istisqa menjadi momentum bagi masyarakat Banyuasin untuk bersama-sama bermunajat, memohon ampunan sekaligus memohon agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan.
Selain berdoa, masyarakat juga diingatkan tetap melakukan langkah pencegahan, terutama dengan tidak membakar lahan sembarangan serta menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal.
Askolani berharap doa dan ikhtiar yang dilakukan bersama tersebut dapat segera dijawab dengan turunnya hujan.
“Semoga melalui doa dan ikhtiar bersama ini, Allah SWT segera memberikan hujan yang membawa keberkahan bagi Banyuasin,” harapnya.
Salat Istisqa yang digelar serentak di 21 kecamatan menjadi simbol kebersamaan masyarakat Banyuasin dalam menghadapi kemarau sekaligus pengingat bahwa menghadapi kekeringan dan menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.



Average Rating